0
Ketika Timur Lenk menguasai kota Aq Syahr, datang seorang pengikut filsafat. Ia
mengutarakan kepada Timur Lenk, dengan bantuan seorang juru bicara, bahwa ia ingin
menguji ulama Aq Syahr. Timur Lenk mengumpulkan seluruh ulama dan berkata pada
mereka, "Seorang laki-laki ahli filsafat ingin menguji kalian. Jika tidak seorangpun
dapat menjawab pertanyaannya, mereka menganggap bahwa negara Romawi tidak
memiliki seorang ulama pun, dan bahwa ilmu itu telah sirna. Bila hal itu terjadi, harga
diri kalian hilang."

Ulama Aq Syahr lalu berkumpul di suatu ruangan khusus dan memusyawarahkan
masalah tersebut. Mereka agak putus asa memikirkan bagaimana caranya mengatasi
bahaya yang siap menghadang di hadapan mereka. Bahkan mereka akan menyewa
ulama dari luar daerah untuk menghadapinya, meskipun tempatnya jauh.

Akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan Syekh Nashruddin. Mereka mengutus
seseorang untuk menemuinya, dan Nashruddin pun menerima kedatangan mereka. Lalu
diutarakanlah apa yang mengganggu pikiran mereka. Nashruddin berfikir sejenak,
lantas berkata: "Serahkan urusan ini kepadaku!" Mereka bertanya, "Apa yang akan anda
lakukan?" Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika
jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab,
aku masuk sesuai kehendak hatiku'. Lalu kalian hendaknya berkata, 'Kami tidak
menganggapnya sebagai orang pandai.' Lalu datangkan orang selain aku! Bila aku
berhasil, kalian harus memberiku hadiah." Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang
anda inginkan, akan kami usahakan. Yang penting, laki-laki itu harus kalah."

Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang
luas. Timur Lenk duduk dengan pakaian perang dikelilingi para prajurit yang
bersenjata lengkap. Laki-laki ahli filsafat itu hadir. Rambutnya tidak menarik dan
bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu
kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu.

Nashruddin hadir dengan mengenakan surban besar dan berjubah. Di belakangnya
mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung
dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak,
ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya
dengan memandang ke arah Nashruddin.

Nashruddin berdiri dan menancapkan tongkatnya tepat di tengah lingkaran. Ia
membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu
Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga
bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli
filsafat. Nashruddin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung yang
diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu.
Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya.
Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah
baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari ataske bawah dan jari jemarinya terbuka,
lalu kedua tangannya dinaikkan ke udara beberapa kali. Nashruddin berbuat
sebaliknya: membuka jari jemarinya dan diturunkan ke bawah. Ahli filsafat puas
dengan apa yang dilakukan Nashruddin.

Setelah itu, ahli filsafat meletakkan jari jemarinya di atas tanah dan berjalan
merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakan-akan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari
saku dan menggerakkan kedua tangannyaseakan hendak terbang.
Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah
Nashruddin dan mencium tangannya dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan,
bahwa Aq Syahr beruntung mempunyai seorang cerdik pandai seperti Nashruddin.
Seluruh hadirin memberikan ucapan selamat kepada Nashruddin dan memberikan
hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda
di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan
menempatkannya di kelompok orang kaya.

Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli
filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat
yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi
sebenarnya?"

Ahli filsafat menjawab, "Melihat perselisihan ulama filsafat Yunani dan ulama Bani
Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam
tentang hal tersebut. Maka saya ingin mempelajarinya. Saya isyaratkan pada
Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan ucapan saya
dan berkata, 'Bumi itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran utara dan
setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga
bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian
bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa
bumi terbagi menjadi tujuh negara.

Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke
udara dan menggerakkannya, maksudku tumbuh-tumbuhan, barang tambang dan
bagaimana proses terjadinya. Syekh Nashruddin mengangkat kedua tangannya
menunjuk ke bawah dan mengisyaratkan turunnya hujan adalah ke bawah, yang
tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran
bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan kekuatan yang terkandung di
dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat
periode akhir. Kemudian akuisyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan
melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin
bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi
tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit
dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat.
Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian."

Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuhpenghormatan. Setelah itu
mereka ganti menjumpai Nashruddin dan meminta penjelasan atas jawaban-jawabannya. Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan
seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di
depan rumahnya terdapat kue berbentuk seperti lingkaran yang dibuatnya. Aku
membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena
ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu
bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala.

Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang
memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia
bermaksud memberitahukan bahwa dirinyasangat lapar dan menginginkan makanan
lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa dirku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris
membuatku terbang karenanya. Pagi hari aku ingin membuat kue, namun yang
kutemukan hanya sebutir telur pemberian istriku. Aku belum sempat menelannya
ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara
hati-hati."

Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana
anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan
membenarkan jawaban Anda, padahal jawaban Anda tersebut tidak seperti yang
diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang
ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung.

Post a Comment Blogger

 
Top