0
Syaikh Junaid Baghdadi berjalan-jalan keluar Baghdad. Syaikh bertanya pada muridnya kabar Si Bahlul yang gila, dan mereka menjawab, "Dia memang gila, apa yang anda perlukan darinya ?"
          "Aku ada perlu dengannya." Lalu para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereka membawa Syaikh Junaid kepadanya.
          Syaikh lalu mengucapkan salam, dan Bahlul bertanya, "Anda Abul Qasim ?"
          "Ya, betul !" jawab Syaikh Junaid.
          "Anda yang memberikan orang-orang petunjuk spiritual ?" tanya Si Bahlul.
          "Ya !" Kemudian Bahlul bertanya, "Tahukah anda bagaimana cara makan ?"
 "Ya...! Saya mengucapkan Basmallah, mengambil yang paling dekat, menggigit kecil-kecil, meletakkan di sisi kanan mulut saya dan mengunyah pelan-pelan. Saya mengingat Allah S.W.T. saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, saya mengucap Alhamdulillah. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan."
          Bahlul berdiri dan berkata, "Anda pemimpin spiritual tapi tidak mengetahui caranya makan." Setelah mengucapkannya, dia langsung pergi. Para murid Syaikh berkata, "O Syaikh ! Dia benar-benar orang yang gila."
          Syaikh menjawab, "Dia adalah orang gila yang pandai berucap. Tapi dengarkan pernyataan yang benar darinya."
          Setelah itu Syaikh Junaid mengikuti Bahlul. Ketika sampai di bangunan yang berdebu, dia duduk. Junaid mendekati.
          Bahlul bertanya, "Siapakah anda ?"
          "Syaikh Baghdadi yang tidak tahu bagaimana cara makan."
          "Anda tidak mengetahui cara makan, tapi apakah anda tahu cara berbicara ?"
"Ya...! Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar mengerti. Saya mengajak orang di dunia untuk kembali ke Allah dan Nabi." Kemudian beliau menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan adab dan etika.
          Bahlul berkata, "Anda pun tidak tahu cara berbicara." Bahlul berdiri dan pergi diikuti Junaid dan murid-muridnya.
          Di sebuah tempat Bahlul bertanya, "Bagaimana cara anda tidur ?"
"Selepas sholat Isya' dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya." Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur. Bahlul kemudian berkata, "Anda pun tidak tahu cara tidur."
          Dia ingin berdiri, tetapi Junaid memegang pakaiannya dan berkata, "Wahai Bahlul, saya tidak mengetahuinya. Demi kecintaan kepada Allah ajari saya."
          Bahlul berkata, "Anda berkata bahwa anda tahu sehingga saya mencegah anda. Sekarang anda mengakui ketiadaan pengetahuan, jadi saya akan mengajari."
"Kebenaran dibalik memakan makanan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika makanan, anada haram, dengan ratusan adab hal itu tidak akan menguntungkan, tapi bisa jadi menghitamkan hati."
Bahlul melanjutkan, "Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum anda mulai. bicara. Dan pembicaraan anda haruslah menyenangkan Allah. Jika pembicaraan hanya untuk urusan dunia, maka apapun yang anada ekspresikan, akan menjadi bencana bagi anda. Itulah sebabnya, diam dan tenang adalah hal yang terbaik."
"Apapun yang anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah hati anda harusnya bebas dari rasa iri dan kebencian. Hati anda harusnya tidak rakus dunia, dan ingatlah Allah S.W.T. ketika akan tidur."
Syaikh Junaid kemudian mencium tangan Bahlul dan berdo'a untuknya. Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berpikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.


sumber

http://farahma-bluewinter.blogspot.com/2012/03/kisah-hikmah-syaikh-junaid-dan-si.html

Post a Comment Blogger

 
Top